Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Ternyata Roda Kehidupan Pernah Tidak Berputar

Assalamualaikum,

          Pepatah (mbuh pepatah sapa...?) pernah mengatakan bahwa kehidupan itu seperti roda yang berputar terkadang di atas terkadang pula di bawah. Kadangan kita merasa ketika posisi sedang jatuh filsafat seperti itu muncul dalam benak kita sebagai rasa penyemangat. Apa benar padahal kenyataannya kata-kata seperti itu biasanya muncul didampingi rasa iri (plus dengki.. :D). Akui saja benar adanya, karena kebanyakan orang yang jatuh itu akan ada dua kemungkinan di dalam dirinya pertama rasa penyesalan karena salah mengambil langkah dan kedua muncul motivasi diri untuk segera mencoba terus sampai berhasil. Hasil endingnya pun ada dua pertama jatuh terpuruk dengan penyesalan tiada arti atau kedua berhasil dan meraih sukses. Jarang sekali bahkan mendekati tidak ada orang yang jatuh terus berpikir mungkin ini roda kehidupan sedang lagi dibawah besok muter bakal naik di atas lagi(preettt...). Kebanyakan juga yang terjadi adalah ketika seorang yang merasa tidak mampu melihat orang yang sukses dan berkata,”roda kehidupan itu terus berputar mungkin saya sekarang dibawah dia di atas lihat saja besok dia juga akan mengalami di bawah”. 

          Ungkapan-ungkapan mengenai roda kehidupan apakah relevan? Kalau kata Pak Prof Akhyar kalau berkata relevan maka harus ada pembuktian statistik( wadoeh jadie teringat skripsi tempoe doeloe). Pada pembahasan ini kita tidak berbicara mengenai revelan karena ini hanya ungkapan saja dan pendapat dari satu arah(oke boss). Kembali kepada pembahasan mengenai roda kehidupan, apa sih yang menjadi masalah mau pakai roda atau layar atau sandal(toeng??? Sandal jepitt) tidak akan berarti apa-apa pada kehidupan seseorang. Jadi begini beberapa kali saya mencoba mengamati kehidupan seseorang dan didapat hasil quickcount(emang pemilu) dalam arti disini gampangannya tanpa pikir panjang bahwa ternyata fakta tidak seperti teori pepatah di awal tadi. Jikalau pepatah itu benar seharusnya setiap orang sedikitnya akan mengalami dua fase yaitu puncak kegembiraan dan puncak kesengsaraan. Namun kenyataan fakta dilapangan tidak seperti itu, banyak dari manusia yang ternyata dari lahir sampai mati hidupnya datar, sebagian besarnya hampir merasa sengsara dan ada yang gembira terus-terusan. Stop...! mungkin sebagian anda yang membaca sampai tahap ini ada yang tidak sepakat (maaf kita belum masuk pada pembahasan hukum karma, pembalasan dsb), ikuti dulu alurnya dan silakan komentar apapun alasan anda agar kita tidak mati pemikiran. Jika berbicara karma mungkin akan berbeda lagi, nanti mungkin kita akan bahas nanti dibawah(mungkin juga tidak dibahas).


Gambaran Kehidupan

          Jika kita berpikir mengenai kebahagiaan dan kebahagiaan itu kita ibaratkan pada aset yang dimiliki(famili, tetangga, lingkungan dan harta) maka roda kehidupan itu sejatinya tidak pernah ada(kok bisa???). Jawabannya adalah ya benar, yes is true, na’am hada toyib, xiexie, mungkin anda bingung langsung pada gambaran hidup saja. Pada beberapa versi pada zaman dahulu ketika masih zaman kerajaan orang yang lahir sebagai anak raja dia akan menjadi raja apalagi jika anak tunggal, minimal masih dalam keluarga raja. Mungkin ada yang berpikir bisa terjadi pada saat perang atau kerajaan ditimpa bencana, masa-masa seperti itu hanya pada momen yang jika difilmkan bisa dibuat dalam durasi dua jam dengan bisa sampai ratusan versi pada satu tokoh. Padahal umur dinasti bisa sampai ratusan tahun dan momen seperti itu hanya berlaku pada waktu dan tokoh tertentu saja. Artinya fase tenang itu lebih panjang, namun kita tidak perlu memperdebatkkan itu. Maksud saya dalam hal ini ketika terlahir sebagai anak raja dia sudah ditanggung hidupnya dalam lingkungan terlayani dan terlindung pada umunya dan sampai menjadi raja kemudian mati. Beda lagi dengan rakyat minskin jelata pada masa yang sama terlahir anak dari rakyat jelata tetap menjadi rakyat jelata sampai akhirnya mati. Tidak ada sama sekali roda kehidupan di sini, ada orang yang ketika lahir dari keluarga kaya dan dapat mempertahankan kekayaan sampai akhirnya mati, di sisi lain masih banyak orang yang lahir membawa masalah bahkan warisan masalah sampai akhirnya mati tidak kunjung juga terselesaikan masalahnya dan bisa jadi mewariskan masalah pada keturunannya (Na’udzubillah...)

          Ketika berbicara mengenai kebahagiaan maka tidak bisa kita definisikan seperti halnya bahasa. Apakah bahagia dilihat dari cara senyuman atau tertawanya, apakah dilihat dari harta, ataukah dari keluarga(berencana hah..jha..), sama sekali bukan yang pastinya walaupun ada yang berkata kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang namun faktanya dengan uang orang bisa bahagia. (intinya ajalah bos ga usah bertele-tele maksudnya apa dan bagaimana solusinya??). Statmen ini bukan berarti penulis mengaggungkan uang sebagai suatu yang segalanya namun yang ditekankan adalah realitanya, kita sebagai manusia juga butuh hidup bukan dan itu tidak bisa didapat hanya dengan kita tertawa setiap hari. Kembali mengenai roda berputar(maksudnya roda kehidupan), istilah ini sebenarnya sama sekali bukan motivasi, ini hanya kata-kata penghibur diri akibat iri dan dengki. Hal yang mendasar bahwa walaupun terdapat hadist dan dalil yang mengatakan bahwa umur, jodoh dan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT namun tidak berarti kita akan diam saja. Ini sama halnya kita akan membeli barang di toko anggap saja barang itu adalah rezeki kita yang sudah pasti akan kita dapatkan dengan uang yang kita miiliki (uang ini kita ibaratkan usaha kita dan toko adalah dunia ini). Kita tidak pernah tau harga sebenarnya barang itu maka kita harus ke toko untuk mengetahui dan membelinya. Terkadang kita berpikir uang yang sedikit ini apakah bisa membeli barang tersebut padahal kita belum melihatnya langsung, inilah yang menjadikan banyak orang yang jatuh terlebih dahulu sebelum melihat langsung. Padahal kenyataannya ada banyak orang yang tidak tahu ketika dia membawa uang sedikit ternyata barang yang sangat bagus harganya sangatlah murah, justru sebaliknya ada orang yang membawa uang banyak ternyata barang yang dia beli harganya mahal namun tidak jauh berharga dari pada yang harganya murah (jika tidak mudeng akan kami jelaskan). 

          Permisalan tersebut dapat dijelaskan begini kurang lebihnya (pak guru yang jelas lho...): kita tidak pernah tahu seberapa besar rezeki kita di dunia yang kita perlukan adalah usaha untuk meraihnya. Kita sudah melakukan usaha mati-matian sampai kaya raya ternyata kekayaan itu tidak berharga sama sekali karena mungkin hidupnya monoton, ludes, bangkrut, dll. Namun di sisi lain ada yang usaha juga mati-matian sampai kaya raya (kok sama??(iyalah biar adil gak ada yang gak usaha langsung kaya ngimpi..)) namun hidupnya terus diliputi kebahagiaan ini yang namanya keberkahan. Persoalannya adalah pada orang yang belum tau rezekinya seperti apa tetapi sudah takut akan usahanya apakah akan dapat meraih rezekinya pada akhirnya jadi miskin. Akhirnya memberikan kesimpulan bahwa miskin adalah karena orang tidak mau berusaha (apakah kesimpulan ini akhir dari tulisan ini?). Perlu kita ingat (penulis beranggapat semua muslim pernah membaca ini) bahwa Allah SWT pernah berfirman dalam Qur’an Surat Ar Ra’d ayat 11 sebagai berikut: 

 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ 

...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri... (QS. Ar Ra’d : 11)

          Dalil di atas menggambarkan bahwa walaupun rezeki itu sudah ditakdirnkan namun keadaan atau merain rezekinya itu kita sendiri yang harus meraihnya. Tidak pernah ada usaha yang tidak menghasilkan, semua usaha pasti ada hasilnya. Berbuat jahat pasti akan dibenci, berbuat baik pasti dipuji ini hukum sosial, jika usahanya “1+1” maka hasilnya akan menjadi “2”, jika usahanya “0+0” maka hasilnya pun “0” ini jika diibaratkan perhitungan. Namun apakah hanya usaha saja yang harus kita lakukan?, jelasnya tidak perlu ada rasa syukur yang harus kita lakukan ini adalah bentuk keseimbangan pada setiap apa yang kita usahakan agar kita tidak selalu merasa kekurangan. Kata Allah SWT dalam Quran Surat Ibrrahim ayat 7 sebagi berikut: 

 لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ. 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7) 

          Oleh sebab itulah orang kaya yang rajin bersyukur tidak pernah kekurangan harta bahkan terus bertambah. Jika orang sudah bersyukur maka kata roda kehidupan pun kita yakini tidak akan pernah terucap karena jika sedang kekurangan bukan kalimat “kita sedang di bawah roda” tapi kalimat yang masih di bawah kita juga banyak sehingga tidak membuat kita lebih gelisah jika melihat teman, tetangga, ataupun kerabat yang sudah sukses lebih dahulu. Pada akhir kesimpulannya roda kehidupan itu adalah istilah orang dengki yang tidak suka melihat orang lain sukses, sebagai muslim sudah seharusnya berusaha dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya. Seperti yang dijanjikan di atas pembahasan mengenai pembahasan hukum karma, pembalasan dll kita bahas di lain artikel melanjutkan sesi artikel sebab-akibat (mungkin iya mungkin banget tidak bilang ja males nulis kepanjangan). 

PPG menjadikan lulusan KIP tidak jelas

Assalamualaikum,


“Pahlawan tanpa tanda jasa” ungkapan yang sering terbayangkan ketika mendengar kata Guru. Betapa besar pengaruhnya terhadap seorang manusia karena darinyalah terlahir manusia-manusia dengan berbagai macam keahlian. Dari sosok guru pula muncul berbagai pandangan, oleh sebab itu seorang guru bukanlah pekerjaan yang bisa dimainkan karena dari sosoknyalah akan menentukan arahan baik buruknya seseorang.

Dalam perkembangannya menurut UU NO. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disbutkan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Ini menjelaskan bahwa pemerintah menganggap guru adalah sebagai profesi yaitu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No. 14 tahun 2005).

Anggapan guru sebagai suatu pekerjaan dan pemberian tunjangan bagi para guru menjadikan guru sebagai salah satu tujuan pekerjaan yang diminati. Oleh karena itu dalam perkembangannya banyak bermunculan LPTK, namun LPTK yang muncul ini tidak semuanya dapat mengeluarkan lulusan yang berkualitas sehingga menurut pemerintah perlu adanya penyaringan. Penyaringan inilah yang dicurahkan dalam sebuah program PPG atau Pendidikan Profesi Guru.

Jika dilihat sekilas dari namanya sebenarnya bagus karena dengan adanya program ini para calon pendidik lebih tersaring dan hanya yang berkualiatas saja yang dapat mengajar. Akan tetapi dalam keberjalannannya terdapat suatu permasalahan diantaranya :

1.       Siapa peserta PPG

2.       Dimana bisa mengikuti PPG

3.       Berapa kuota PPG

4.       Bagaimana persiapan birokrat kampus mengenai PPG

Ternyata ketika melihat aturan dan teknisnya banyak sekali yang menjurukan pada kerugian oleh para calon guru khususnya lulusan KIP. Dalam UU No.87 tahun 2013  pasal 6 ayat 1disebutkan ternyata non kependidikan pun dapat disertakan sebagai peserta PPG, ini yang menjadikan timbul suatu pertanyaan buat apa adanya perguruan yang mendirikan KIP ketika lulusannya juga disamakan dengan non kependidikan. Disamping itu pula disebutkan UU No. 87 tahun 2013 pasal 9 ayat 1 bahwasannya struktur kurikulum PPG sama seperti yang ditempuh oleh program KIP dalam perguruan tinggi, ini akan membuang-buang waktu saja dan biaya dan sarjana kependidikan yang sudah mempelajari itu dalam waktu ± 4 th harus mengikuti kembali bersama S1/D4 non kependidikan.

Selain itu pula PPG dengan kuota terbatas hanya diadakan di beberapa LPTK saja yang tentunya tidak di semua daerah ada. Bukan hanya itu menilik surat edaran dikti no. 127/E.E4/MI/2014 bahwasannya  akta 4 untuk kependidikan dihapuskan dengan digantikannya sertifikat pendidik yang diperoleh melalui PPG. Ini yang menjadi kontroversi,

1.       Buat apa ada FKIP ketika ternyata lulusannya tidak bisa mengajar karena tidak memiliki ijazah yang sah?

2.       Kenapa PPG juga diwajibkan oleh lulusan KIP sementara non kependidikan juga bisa mengikuti PPG padahal dalam kurikulumnya sudah pernah diajarkan di lingkup KIP.

3.       Bagaimana tanggapan mahasiswa KIP mengenai PPG

 

 by Choerin Amri

Apa Kabar Bapak Guru?

Assalamualaikum,


      Zaman telah berubah, kehidupan seorang guru diwaktu lampau telah menjadi kenangan pahit dimana kesengsaraan melanda para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Umar Bakri begitulah cerminan sosok seorang guru menurut gambaran seniman Iwan Fals melalui syair-syairnya. Sosok yang mengapdi dan tidak peduli akan nasib hidupnya, dengan sepeda kumbang tua yang digayuh setiap hari dari rumah Pak Lurah melewati lumpur lapindo(zaman dlu blm ada) demi memberikan setitik ilmu yang dia punya, dalam benaknya hanya satu pikiran, jangan sampai anak didiknya nanti akan sama nasibnya seperti dirinya. 



        Mungkin seperti itulah gambaran seorang guru tempo lalu, namun tidak banyak orang mengerti bahwa dari sosok guru yang seperti itulah lahir tokoh-tokoh luar biasa yang berpengaruh besar terhadap bangsa Indonesia. Akan tetapi pengapdian guru yang seperti itu ditahun-tahun pertengahan mulai pudar, guru hanya menjadi pelarian ketika sudah tidak ada lagi yang mau menampung pekerja-pekerja yang begitu banyak. Suatu yang sungguh mulia justru menjadi pilihan terakhir dari sebuah profesi, akibatnya hasil didikannya adalah orang-orang yang memang apa adanya. Seperti halnya sebuah produk ketika bahannya saja sudah barang sisa maka hasilnya pun hanya limbah yang tiada berarti. Inilah yang sekarang kita lihat, banyak orang-orang yang terlihatnya memang cerdas namun hatinya busuk, bahkan pikirannya kotor. Para koruptor mavia berterbangan dimana-mana.

         Suatu hal yang sepele ketika kita menilai seseorang dari sisi luarnya saja, namun pandangan terkadang menipu, mungkin lontaran ini sudah banyak diperbincangkan di masyarakat. Itulah dunia perpolitikan di Indonesia saat ini, selalu ramai di masa-masanya ketika pemilu ramai dengan ucapan manisnya dan saat menjabat ramai dengan tingkah korup dan ketidak bejusan dalam bertindak. Bukan suatu yang tabu dizaman ini mengenai pembertitaan yang buruk mengenai negeri ini. Bukan salah semua guru namun beberapa guru, inilah yang menjadi sebuah pertanyaan besar mengenai pendidikannya terhadap muridnya dulu.

       Terkadang niat pun bisa mejadi tolak ukur apa hasil yang diperoleh, ketika seorang guru tidak mempunyai niat untukmengajar atau hanya sekedar mengisi waktu luang atau karena tidak ada pekerjaan lagi sehingga mendidik karena terpaksa ya seperti inilah hasilnya, orang-orang yang memang ditakdirkan menjadi seorang yang berpengaruh namun tak punya moral.

         Mungkin begitulah gambaran dampak buruk dari pendidikan yang salah. Inilah yang menjadikanseorang guru sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu bangsa. Kualitas, moral sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh eksistensi guru dalam mendidik anak didiknya. Bukan suatu yang main-main ketika kita berbicara mengenai pendidikan. Ini sama halnya dengan memasukan program ke dalam suatu komputer, atau robot ketika bahasa pemrograman yang dimasukan terjadi kesalahan maka akan terjadi kerusakan pula pada robot tadi. Manusia memang bukanlah robot, manusia mempunyai hati dan mempunyai pikiran yang terus berkembang namun apa jadinya ketika pemikiran dasarnya yang nantinya akan dikembangkannya salah maka perkembangannya akan salah pula.

          Dalam UU Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu(http://www.anggaran.depkeu.go.id/). Bagaimana bisa dikatakan mendapat pendidikan yang bermutu ketika gurunya saja kurang bermutu. Mengingat diawal kemerdekaan pada negara tetangga yaitu Jepang, pada saat itu Jepang mengalami kekalaha perang kemudian Kaisar Hirohito bertanya kepada para abdinya, mengenai jumlah guru yang tersisa pada saat itu, di Jepang sendiri memang pada saat itu guru sangatlah dibutuhkan dan benar-benar diperhatikan alhasil sekaranglah terlihat negera Jepang yang maju dan termasuk dalam negara yang berpengaruh dalam ekonomi dunia.

         Adalah awal pencerahan bagi para guru di era masa Presiden cantik kita(yo satu2 yg wanita) Bu Mega munculah gajih k-13 kemudian awal Presiden SBY menjabat muncul lagi tunjangan sertifikasi untuk para guru yang memenuhi syarat. Pendidikan guru menjadi sangatlah populer, bahkan peringkatnya minatnya hampir sama dengan pendidikan dokter. Menjadi suatu pertanyaan kembali apakah dengan banyaknya tunjangan ini bisa meningkatkan kualitas guru atau bahkan merubah mindset atau jalan pikir seorang guru yang sebelumnya adalah mengapdi berubah mencari finansial semata. Eksistensi guru di sini diuji kembali, sebagian memang menjadi motivasi untuk memajukan pendidikan bangsa demi meraih salah satu cita-cita negara yaitu ada pembukaan UUD ’45 “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Namun tidak sedikit yang hanya mengincar tunjangannya saja, akibatnya hal yang negatif banyak muncul terjadi, contoh saja di daerah Karawang pada tahun 2011 tercatat 33 kasus perceraian dan 41 kasus ditahun berikutnya(http://daerah.sindonews.com), bahkan di Cirebon mencapi sekitar 60%, belum kasus yang lain lagi(http://basis13.com/). 

          Memang kita pun tidak boleh memandang sebelah mata, walaupun ada sisi negatifnya namun tetap saja masih banyak positifnya salah satunya adalah peningkatan semangat guru dalam mendidik peserta didiknya, bukan hanya itu banyak guru menjadikan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri untuk penunjang profesionalitasnya sebagai guru. Namun tetap saja menjadi suatu tanda tanya besar ketika banyaknya minat orang-orang menjadi guru karena tunjangan bukan karena pengapdiannya sebagai bukti kecintaannya dan ingin merubah penerus bangsa yang lebih baik. Apa jadinya nanti ke depan dengan adanya orang-orang tersebut, mungkin inilah yang menjadikan munculnya syarat PPG bagi siapapun yang ingin menjadi guru. Udah dulu ya capek kapan2 bersambung…



by  : Choerin Amri


Daftar pustaka
http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=565
http://daerah.sindonews.com/read/2013/08/12/21/770665/penghasilan-meningkat-angka-perceraian-pns-meningkat
http://basis13.com/index.php?option=com_content&view=article&id=469:angka-perceraian-guru-capai-60&catid=52:pasundan&Itemid=53



Kejayaan Umat Berawal dari Masjid, Namun Sekarang....

Assalamualaikum,


Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan terjadi kiamat hingga orang-orang berbangga-bangga dengan (kemegahan)masjid."  Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

Kita memang tidak pernah tahu kapan hari kiamat itu akan terjadi, dan ini adalah rahasia Allah SWT. Namun adakalanya bisa terlihat dari tanda-tanda yang mendekati waktunya. Diantaranya adalah pembangunan masjid(toeng bukannya malah bagus bangun masjid yo...), dalam suatu hadist diriwayatkan,

“Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan memperindah masjid-masjid”. (HR. Abu Dawud)

Realitanya di zaman ini banyak sekali pembangunan masjid oleh perorangan atau pun kelompok yang tidak difikirkan terlebih dahulu letak dan kebermanfaatannya ke depan. Ya memang benar bahwasannya Allah akan menjanjikan rumah di surga bagi siapa saja yang membangun masjid sesuai dengan hadist nabi :

Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid(mushola) walaupun sebesar kandang unggas (rumah gubuk) maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)

Disayangkan ketika masjid sudah dibangun jarang bahkan tidak ada yang sholat di dalamnya. Yang lebih ironisnya lagi ketika sebuah kelompok membangun masjid karena tidak mau sholat di masjid sebelah(ashobiyah... mungkin ingin beda sendiri) padahal jaraknya tidak begitu jauh. Sangat disayangkan yang seharusnya masjid sebagai salah satu tempat bersaliturahmi dan berkumpulnya para umat islam malah beralih menjadi perpecahan umat islam. Dan yang sangat memprihatinkan jika ini terus terjadi maka perpecahan akan semakin banyak, diawali dengan beda masjid lanjut menjadi beda jamaah lanjut lagi beda kurikulum(maksudnya??? Kya sekolah ja..) bahkan bisa-bisa menjadi antar umat merasa benar sendiri dan tak mau sholat kalau bukan di masjid kelompoknya, sebagai contoh isu yang selalu diperbincangkan yaitu ahmadiyah. Maka dari itu bukanlah suatu yang harus kita renungkan sudah bukan saatnya, namun memang harus ada suatu pemikiran untuk pemecahan masalah ini.

Dalam konteksnya sebenarnya bagus dengan banyaknya pembangunan masjid berarti islamsudah mulai berkembang pesat di daerah tersebut, namun yang perlu diperhatikan bahwa ketika pemabangunan masjid itu tidak merata, maksudnya ada daerah yang belum didirikan masjid namun di lain tempat ada daerah yang banyak sekali didirikan masjid. Namun walaupun begitu pertumbuhan pendirian masjid di Indonesia masih terbilang kurang dan yang lebih kurang ajar lagi ternyata pertumbuhan gereja lebih banyak, menurut data yang beredar, dengan jumlah pemeluk Kristen kurang dari 10 persen, namun jumlah Gereja sudah mencapai 135 ribu  sementara Masjid dan Mushola hanya 600 ribu, padahal jumlah umat Islam mencapai 88 persen atau 210 juta orang dari 240 juta penduduk Indonesia. Ini bukan lagi PR buat kita tapi harus sudah menjadi ulangan harian(kalo perlu ujian nasional..).

---‘’---

Menurut harian Republika Jumat 10 Mei 2013, dinyatakan bahwa kondisi masjid di Indonesia saat ini memang mengkhawatirkan. Ada sekitar 850 masjid dan satu juta mushola namun ternyata kurang dari setengah persennya memiliki komunitas, sisanya masjid selalu terkunci dan hanya buka ketika sholat tiba bahkan tak jarang masjid atau mushola beralih fungsi menjadi kandang binatang ternak akibat jarang digunakan oleh masyarakat sekitar.

Padahal jika kita membaca sejarah bahwasannya pada masa nabi dan sampai kejayaan umat islam yang terakhir kemarin yang InsyaAllah akan bangkit kembali, masjid adalah tempat awal mula peradaban, tempat munculnya pemikir-pemikir ilmu, tempat pusat pemecahan kasus bahkan sampai dunia sosial politik serta rencana perang pun disusun di dalamnya. Inilah ketika sekulerisme sudah mulai berkembang, beberapa orang manganggap bahwa agama dan masalah dunia itu adalah urusan yang sangat berbeda, padahal untuk masuk akherat pun kita harus muncul terlebih dahulu di dunia.

Salah besar ketika kemajuan peradaban suatu negara islam dan atau mayoritas islam akan lebih cepat maju ketika antara agama dan negara dipisahkan. Islam adalah agama syamil atau meyeluruh dalam artian semua aspek mulai kehidupan sejak lahir bahkan sebelum lahir hingga sampai kehidupan di akherat kelak semuanya ada pada islam. Oleh karena itulah pada zaman ini banyak negara islam atau mayoritas islam yang belum maju dan hanya masih sebatas negara berkembang. Indonesia sendiri yang katanya negara yang sedang berkembang sampai saat ini belum bisa dikatakan maju walaupun beberapa berpendapat Indonesia dalam banyak aspek sangat diperhitungkan oleh banyak pihak karena dapat berpengaruh besar, ini karena Indonesia masih menganggap barat(orang ga jelas) sebagai kiblatnya. Orang barat pada masa kegelapannya ilmu pengetahuan tidak berkembang karena dihalang-halangi oleh agamanya namun ketika lepas dari agama dalam kurung menjadi negara sekuler malah justru berkembang, ini di tiru oleh negara mayoritas islam(bodoh banget), padahal kita lihat sejarah bahwa dulu islam jaya karena agama dan negara bersatu sekarang pemikirannya dibuat sekuler pada akhirnnya hanya menjadi budak dan kelinci oleh orang barat(nglangsa).

---‘’---

Jika kita lebih jauh(maksudnya jauh blesek ke pedalaman) kita akan banyak melihat masjid dibangun di atas kuburan. Ya sudah jelas salah sudah tidak usah dibahas....

Dari 'Aisyah r.a: "Apabila ada orang sholeh di antara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid." Dalam hadits itu disebutkan: "Mereka itu berakhlak buruk."( HR. Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Allah memusuhi orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid." Muttafaq Alaihi. Muslim menambahkan: "Dan orang-orang Nasrani." 



by : Choerin Amri


Mencontek Halal Ga Y?


Assalamualaikum,

Mencontek boleh ga sih?? Nah persoalan ini yang akan kita angkat kali ini, mungkin ini tidak akan menjadi jawaban karena jawabannya akan ada pada diri masing-masing.
Untuk pertama-tama saya tanyakan adakah di dunia ini orang yang benar-benar tidak pernah mencontek?(waktunya kpn?harus jelas donk zaman sekarang? dulukah??). Pertanyaan ini kerap sekali kita pertanyakan jika ada seseorang yang melihat kita sedang menyontek, apalagi saat ujian. Kata menyontek ini mungkin sudah tidak asing lagi apalagi pada orang-orang yang ranah atau kehidupannya pada lingkup pendidikan, bahkan mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari.

Namun sebelum jauh masuk kita harus tau dahulu pa itu menyontek. Menyontek berasal dari kata dasar sontek dalam KBBI berarti mengutip sebagaimana aslinya. Memang jika kita pikirkan lebih jauh kata menyontek itu masih luas maknanya. Misal dalam sebuah amal perbuatan mencontek perbuatan yang baik itu baik bahkan dianjurkan namun bukan itu yang akan kita bahas. Dalam dunia kita saat ini mungkin jika dalam dunia pendidikan istilah kerennya "plagiat"(widih..) jika dalam sebuah produk "jiplak" atau pelanggaran hak cipta. Ya itulah sedikit dari artikel ni, bersambung...(toeng???)



Lanjutkan kembali...

Teori baru bermunculan diantaranya ada yang mengatakan, "posisi menentukan prestasi" teori ini memang benar adanya dan sudah teruji sejak bangku sekolah dimulai. Biasanya siswa yang duduk di depan mempunyai prestasi lebih tetimbang yang duduk di belakang, ini sudah sepastinya dikarenakan sisiwa yang duduk di depan lebih dekat dengan guru yang mengajar sehingga otomatis lebih paham karena suara lebih jelas dan tentunya lebih memperhatikan dari pada yang duduk di belakang. Namun berubah zaman berubah pula pemahaman teori, terkadang kita persepsikan nilai sebagai tolak ukur kemampuan akan tetapi tidak sepenuhnya benar karena nilai itu bisa dicari dengan mudah. Ada hal yang mencengangkan lagi tentang teori ini yang kini di bolak-balikan. Memang benar posisi menetukan prestasi dan ini disalahkan oleh siswa yang cerdas namun malas, mereka akan mencari posisi strategis saat ulangan, karena posisi strategis itulah siswa menjadi lebih mudah dalam mengerjakan soal-soal(nyontone penak..).

Menurut pandangan saya bahwa sebenarnya mencontek itu bukanlah sebuah perbuatan yang tidak jujur, apalagi ada yang berkata tidak jujur pada diri sendiri. Bagaimana dikatakan tidak jujur pada diri sendiri saat ketika otak ini masih dikuasai oleh diri sendiri dan masih mengendalikan tubuh ini, sehingga perbuatan yang dilakukan tidak nyleneh(tidak sesuai perintah/bohong/tidak jujur.... 8) ). Jadi menurut saya menyontek itu pa ya? mungkin lebih pada berbuat curang.

Mungkin ada yang menafsirkan menyontek adalah mencuri jawaban, ya saya setuju akan hal itu. Jika siswa menyontek maka sebenarnya dia adalah sedang mencuri jawaban. Memang mencuri itu pa sih?(mbuhlah ya...) Mencuri itu adalah mengambil barang tanpa izin yang bukan haknya(bukan miliknya). Dari definisi ini(ngarang sendiri tp kemungkinan bener) kita tahu bahwa menyontek itu sama halnya kita mencuri hak orang lain(siapa bilang buktinya jawaban orang lain itu masih ada g hilang). Persepsi orang bagaimana ya tentang mencuri, menurut saya yang namanya mencuri itu tidak harus yang dicuri itu hilang, namun gimana ya.....

piye ya....

hemmms....

Itu mungkin lebih pada persaan, jika orang merasa haknya diambil maka mungkin dia akan merasa dia telah dirampas(dirampok/dijambret/dicopet/dicuri). Ya banyak penafsiran tentang itu, namun satu hal bahwa yang namanya kecurangan itu pasti hanya menguntungkan beberapa pihak dan merugikan pihak yang lain, bahkan keuntungan itu terkadang hanya sementara.

udah selesai kita hilangkan dari yang negatif di atas kita beralih...
(beralih pa?)
kesuatu yang lain
(apa?)
bisiklah..

Sebenarnya yang namanya ulangan itu tidak baik(menurut Prof.Choerin Amri), kenapa? Ya karena dengan adanya ulangan secara tidak langsung akan membuat orang menjadi indifidualis. Dalam ulangan siswa dituntut untuk tidak menyontek dan bekerjasama. Dengan dasar itulah akan menjauhkan siswa dari yang pintar semakin pintar dan yang bodoh semakin bodoh, apalagi manakala siswa yang malas tidak mau usaha untuk lebih baik dan apalagi jika didukung siswa lain yaitu memberi jawaban pada siswa tsb saat ulangan.

Menurut penelitian(Prof.Choerin Amri) bahwa larangan menyontek(jiplak) akan mengurangi kreatifitas seseorang. Ya kenapa? karena dengan tidak diperbolehkan siswa menyontek maka siswa akan berusaha untuk mneyontek sehingga yang dia ketauhi hanya itu saja. Coba kita lihat contohnya saja Microsof word misal dari dulu sampai sekarang orang yang membajak tidak pernah membuat sebuah perubahan namun kita lihat linux misal perkembangannya sangat luar biasa, banyak sekali inovasi-inovasi yang bermunculan dari berbagai penjuru.

Kesimpulan :
  1. Mencontek tidak baik namun bisa membuat nila baik akan tetapi kreatifitas mati jika tidak ada pengembangan jawaban.
  2. Posisi menentukan presatasi ini benar adanya sebagai contoh kitahidup di Indonesia berlimpah kekayaan namun kita terlena akan hal itu. Maka benar kata seseorang kita tidak boleh berada pada zona nyaman, jika kita sudah masuk pada zona nyaman maka kita harus keluar jika ingin maju, maka benar kata Rosulullah jika ingin sukses maka berhijrahlah.
  3. Hak cipta harus lebih diminimalisir agar orang bisa lebih kreatif, jika ada yang mematenkan suatu produk maka orang itu adalah egois.
  4. Ora ana sing nyambung antara materi lan kesimpulan

By : Choerin Amri


Sinergi Tiga Serangkai Menuju Pendidikan Berkarakter

Assalamualaikum,


Dewasa ini, baik media cetak maupun media elektronik banyak memberitakan pejabat-pejabat yang korupsi, tawuran antarpelajar, contek mencontek massal saat ujian, bahkan tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pelajar. Hal ini membuktikan bahwa karakter bangsa Indonesia masih sangat rendah. Fenomena ini merupakan salah satu akibat dari buruknya kualitas pendidikan kita. Permasalahan yang terjadi dalam sistem pendidikan ini sebenarnya sudah menemukan solusinya. Solusi itu adalah pendidikan karakter. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana untuk memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah. Pendidikan karakter itu tidak diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, namun dimasukkan dalam semua mata pelajaran secara terintegrasi.

Tetapi, pendidikan karakter yang sudah digencarkan oleh banyak pihak itu belum menemui titik terangnya. Pendidikan karakter itu seolah-olah hanya bersifat informasi tanpa adanya tindakan yang nyata. Pendidikan karakter yang sudah berjalan saat ini hanya dijadikan sebatas pemahaman saja. Apa yang terjadi di banyak sekolah hanya sekadar apa itu pengertian pendidikan karakter, bagaimana penerapan pendidikan karakter itu, tanpa menghiraukan dan melakukan dengan tindakan yang nyata. Teori-teori itu sajalah yang terus terjadi yang akhirnya menghambat proses pendidikan karakter itu sebenarnya.

Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada sejak dahulu seperti apa yang dikatakan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara melalui Among Metode-nya, yaitu ada tiga komponen pendidikan yang harus berjalan sinergis. Ketiga komponen itu adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, langkah awal yang harus ditempuh adalah membangun kembali ketiga komponen itu yang kelihatannya sudah terputus, karena pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berjalan maksimal jika di antara ketiganya tidak ada keharmonisan dan kesinambungan.
Pembentukan dan pendidikan karakter itu dimulai dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling utama dalam pembentukan karakter. Dalam lingkungan ini, peran orang tua sangat penting untuk mendidik anaknya. Orang tua harus menanamkan kebiasaan positif seperti jujur dan terbuka pada anak, memberikan kesempatan anak untuk berpendapat, berbagi peran dalam mengerjakan pekerjaan rumah, dan kebiasaan-kebiasaan positif lainnya.
Kebiasaan-kebiasaan inilah yang dapat membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin, dapat membagi waktu, jujur, dan lebih terbuka dengan masalah yang dihadapinya.
Peran orang tua tidak berhenti pada membiasakan perilaku positif terhadap anak saja, tetapi juga harus mengawasi pergaulan anak-anaknya. Jangan sampai anak bergaul dengan teman-teman yang perilakunya mengarah pada kegiatan negatif. Pastikan bahwa lingkungan pergaulannya bersama dengan anak-anak yang baik. Selain itu, arahkan anak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk mendukung minat dan bakatnya.

Tetapi, kadang-kadang anak dipaksakan untuk mengembangkan keterampilan yang tidak sesuai dengan bakatnya, sehingga psikis anak tertekan yang akan membuatnya bersikap berontak dan berani kepada orang tua. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena yang awalnya menginginkan anak memiliki keterampilan yang sesuai dengan keinginan orang tua, malah masalah yang mereka dapatkan. Biarkan saja anak memilih kegiatan yang sesuai dengan bakat mereka, asalkan kegiatan itu masih berada di ranah yang benar. Pendidikan di lingkungan keluarga inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang tua. Kesempatan baik ini jangan sampai disia-siakan mengingat sebagian besar waktu dihabiskan anak dalam lingkungan keluarga.

Pembentukan dan pendidikan karakter di lingkungan keluarga kemudian harus didukung dengan pembelajaran yang ada di sekolah. Pembelajaran di sekolah yang melibatkan guru dan teman-teman juga sangat menentukan karakter anak. Seorang guru harus dapat membimbing setiap anak dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang diintegrasikan dengan pendidikan karakter. Proses ini tentunya membutuhkan figur seorang guru yang kompeten di bidangnya dan karakter baik yang melekat pada dirinya.

Figur seorang guru memang dijadikan patokan bagi keberhasilan dalam mendidik anak. Guru yang mempunyai integritas tinggi, kedisiplinan waktu, dan inspiratif akan mampu menginspirasi anak untuk mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh guru tersebut. Pendidikan karakter seperti itulah yang diharapkan terjadi dalam lingkungan sekolah. Sosok yang menjadi perhatian utama harus benar-benar bisa memberi contoh, bahkan harus dapat menjadi contoh. Menjadi contoh di sini artinya dapat menjadi role-model atau model yang sesungguhnya untuk menjadi inspirasi para anak didiknya untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun orang lain di sekitarnya.

Jika anak sudah dapat berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun  orang lain, maka tugas masyarakatlah yang selanjutnya harus mendukungnya. Dalam artian bahwa masyarakat juga harus membantu dalam proses pembentukan karakter anak. Jangan sampai anak yang sudah menerapkan perilaku-perilaku  positif dipengaruhi ataupun diwarnai oleh perilaku-perilaku negatif dari masyarakat. Seperti apa kata pepatah, jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut berbau wangi, tetapi jika kita berteman dengan tukang pandai besi maka kita akan terkena percikan apinya. Artinya, masyarakat di sini harus bisa menjadi penjual minyak wangi yang nantinya akan menyebarkan bau wangi itu kepada anak.
Ungkapan di atas sangat sesuai untuk menggambarkan peran masyarakat dalam kehidupan anak. Lingkungan yang positif bisa membentuk anak menjadi pribadi yang positif, sebaliknya lingkungan yang negatif juga akan membentuk pribadi yang negatif. Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter-karakter individu yang ada di dalamnya. Misalnya, seorang anak kecil yang terbiasa berkata kotor, tentu saja ini adalah akibat dari meniru kebiasaan yang ada di sekitarnya. Banyak juga anak kecil yang sudah merokok yang beberapa bulan kemarin banyak diberitakan di televisi. Tentu saja perbuatan merugikan ini adalah juga hasil meniru dari kebiasaan masyarakat sekitar. Sehingga, peran masyarakat di sini dituntut untuk membantu menjaga perilaku anak dan ikut mengawasi pergaulannya sehari-sehari.

Di sinilah peran ketiga komponen itu yang tidak boleh terpisahkan. Dapat kita ibaratkan ketiga komponen pendidikan itu dengan tiga serangkai yang juga tidak dapat terpisahkan. Ketiga serangkai itu harus selalu berjalan bersama, tanpa meninggalkan satu sama lain. Lalu, apakah paparan di atas akan menjadi teori belaka tanpa adanya tindakan yang nyata. Memang, jika kita pikirkan betapa sulitnya membangun lingkungan yang berkarakter. Butuh waktu yang cukup lama untuk menjadikan kebiasaan dan membentuk karakter seseorang. Tetapi, itu semua dapat kita lakukan dengan memulai dari diri sendiri. Perbaikilah diri sendiri sebelum memperbaiki lingkungan di sekitar kita. Biasakanlah membangun pola pikir yang positif yang nantinya dapat memberikan energi yang positif bagi keluarga kita. Kemudian energi positif itu akan tertransfer kepada lingkungan sekitar, baik itu lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Sehingga, perubahan besar akan terjadi melalui perubahan-perubahan kecil yang dimulai dari diri kita sendiri.


By : Anang Wahyudi

kritik dan saran

Tiga Aspek Perbaikan Meningkatkan Mutu Pendidikan

Assalamualaikum,


Orang miskin karena tidak berpendidikan, tidak berpendidikan karena miskin. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 1999 disebutkan bahwa jumlah kepemilikan saham bank oleh warga negara asing dan atau badan hukum asing yang diperoleh melalui pembelian secara langsung ataupun melalui bursa efek sebanyak-banyaknya adalah 99% dari jumlah saham yang bersangkutan. Ini sangat gila, apa yang bisa didapatkan rakyat Indonesia dengan kepemilikan 1% saja.Pada UUD Amandemen, pemerintah mengeluarkan anggaran  sebesar 20 persen dari APBN hanya untuk pendidikan. Anggaran yang besar tersebut direalisasikan ke dalam berbagai program seperti BOS, PKM, Bidik Misi dan lain-lain, namun hasilnya tidak sepenuhnya maksimal.Sebenarnya bukan sistemnya yang gagal, sistem pendidikan di Indonesia selalu dikaji hampir setiap tahun. Ada kurikulum 1994 kemudian direvisi menjadi kurikulum 2004 atau sering kita sebut KBK kemudian yang terakhir KTSP.
Sistem tidak salah dan selalu diupdate sekian waktu namun belum sepenuhnya benar, masih ada perlunya pengkajian berlanjut. Masih ingat kisah Ibu Siami yang terusir dari kampung halaman dikarenakan anaknya diperintah oleh guru untuk memberikan contekan untuk temannya. Pendidikan sekarang memang sudah gila, bahkan ada kasus seorang siswi yang mengakhiri hidupnya hanya karena dimarahi gurunya akibat nilainya yang buruk. Maka dari itu harus ada pendidikan yang berkarakter.
Pendidikan yang berkarakter itu adalah guru yang berkarakter dan mengetahui karakter siswanya. Indonesia itu masih memerlukan guru yang benar-benar guru, bukansekedar guru abal-abal atau guru yang sebenarnya bukan guru namun nyasar menjadi guru atau guru yang hanya mengincar tunjangan dari pemerintah. Sebenarnya bukan sistem yang harus diperbaiki namun tenaga pengajar yang harus diniatkan walaupun sistem juga harus disesuaikan.Ibarat akan membuat suatu bangunan yang kokoh maka perlu adanya rencana yang matang dan tenaga kerja yang berkualitas. Sama halnya jika ingin membangun bangsa maka perlu adanya rencana yaitu berupa sistem pendidikan dan tenaga kerja yang diwakili oleh guru yang berkualitas serta siswa sebagai bahan pembangunan bangsanya. Sesaat setelah Hirosima dan Nagasaki hancur, Kaisar Jepang langsung bertanya,”Berapa jumlah guru yang masih hidup?”, karena saat itu dalam keadaan genting dan betul-betul membutuhkan guru sehingga yang muncul pada saat itu adalah figur guru yang benar-benar ingin membangun negaramelalui anak didiknya. Alhasil, sekarang Jepang menjadi negara yang mempunyai teknologi dan ekonomi yang diperhitungkan di dunia. Maka dari itu, peran guru sangatlah penting dan seorang guru harus mempunyai karakter yang baik. Berikut adalah kiat-kiat menjadi guru yang berkarakter :
GuruSuper
Seorang guru akan menjadi figur bagi murid-muridnya. Oleh sebab itu, guru harus memberikan contoh yang benar-benar baik. Dalam sebuah peribahasa dikatakan “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”, karena dari sosok gurulah masa depan penerus bangsa dicetak. Guru yang baik adalah guru yang dapat menjadikan didikannya lebih baik dari dirinya, maka diperlukan guru super yaitu guru yang bukan sekadar guru yang hanya mengajar pada jam kerja kemudian memberi nilai pada didikannya. Guru bisa dikatakan super jika seorang guru dapat beradaptasi dan berinteraksi langsung serta memahami setiap murid-muridnya maka diperlukan kedekatan antar guru dan murid. Gerak-gerik dan sikap seorang guru akan selalu diperhatikan oleh muridnya bahkan jika menurut murid-muridnya itu suatu hal yang menarik bisa jadi mereka akan menirunya. Di sinilah peran guru dalam memberikan contoh terbaiknya dituntut setengah mati karena guru yang dianggap luar biasa dalam hal baik ataupun buruk akan selalu diingat oleh muridnya sampai mati. Jika guru memberikan contoh buruk maka muridnya akan meniru hal tersebut bahkan tak jarang yang melebihi batas. Begitu juga guru yang ditiru oleh muridnya karena kebaikannya, dia akan selalu mendapat penghargaan dalam batin setiap murid-muridnya bahkan jika guru tersebut telah mati nama dan tingkah lakunya akan selalu dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Mencetak Didikan Yang Berani Berpendapat
Di Purwokerto adasebuah sekolah swasta, meja kerja guru tidak berada di kantor melainkan di setiap kelas dan ditempati dua guru, namun dari situlah guru jadi lebih reaktif karena saat ada yang mengajar biasanya guru yang tidak sedang mengajar juga ikut mendengarkan apa yang guru lain sedang ajarkan pada muridnya dan juga ikut menyampaikan pendapatnya sehingga murid-murid pun terpancing untuk berdiskusi. Peran aktif guru sangatlah berpengaruh terhadap keberanian siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran yang nantinya bisa lebih aktif dalam masyarakat. Ucapan “ada pertanyaan?” atau kata-kata yang sepadan tidak sepenuhnya membuat siswa menjadi aktif bertanya, harus ada sesuatu yang bisa membuat siswa mau bertanya. Siswa yang ingin bertanya pastilah banyak namun siswa yang berani mengungkapkan pertanyaan itu tidaklah banyak karena ada rasa takut atau malu terhadap guru atau teman-temannya. Perlu ada pemancing keberanian agar siswa bisa lebih aktif bertanya. Biasanya guru yang bicaranya terlihat arogan atau sering memarahi akan lebih ditakuti siswa, maka sifat itu harus dihindari dari seorang guru.
Pada saat ini, peran guru belummencakup untuk menjadikan pendidikan karakter yang maju. Masih banyak aspek-aspek yang harus didukung dari hal lainnya, misalnya aspek fasilitas dan lingkungan yang juga memengaruhi kualitas pendidikan. Di Indonesia pengangguran ternyata banyak yang tercetak dari lembaga pendidikan. Menurut perhitungan Badan Pusat Statistik pada tahun 2011 tercatat tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 6,56 persen artinya ada sekitar7,7 juta pengangguran di Indonesia dan diantaranya terdapat orang yang berpendidikan, yaitu lulusan sarjana D3 dan S1.Saat berada di Taman Kanak-kanak dan juga Sekolah Dasar setiap siswa dituntut terus bermimpi untuk meraih cita-citanya, namun setelah mereka naik ke tingkat berikutnya arahan itu bertolak belakang, tanpa disadari mereka semakin bingung dengan cita-citanya yang pernah mereka ucapkan di bangku Sekolah Dasar. Kebingungan ini memang tidak menggeluti semua siswa, namun mayoritas dari siswa merasakan akibatnya saat mereka lulus. Hanya bermodalkan ijazah dan kemampuan yang diajarkan disekolah yang mereka pakai untuk disodorkan ke perusahaan dan berharap mendapat gaji yang tinggi. Pada akhirnya sekolah formal hanya dapat mencetak pekerja yang saling bersaing untuk mendapatkan pekerjaan
Adanya standarisasi yang bertujuan agar sekolah lebih bermutu justru menjadi tingkatan kasta dan yang seharusnya sekolah sebagai lembaga pendidikan malah saling bersaing merebutkan nama tanpa mementingkan siswanya.Persaingan antar sekolah pun terjadi, setiap sekolah berusaha membangun gedung dan fasilitas lengkap serta bersaing merebutkan siswa baru yang berkualitas masuk ke dalam sekolah tersebut. Saat siswa baru yang berkualitas sudah masuk munculah persaingan baru. Siswa yang dapat beradaptasi dan bisa berprestasi maka akan mendapatkan hadiah dari sekolahnya sehingga mereka akan lebih ditinggikan derajatnya bahkan akan mendapat beasiswa prestasi. Beasiswa prestasi memang baik agar mereka bersaing untuk berprestasi. Namun hanya sebagian kecil yang mampu dan sadar akan itu dan yang lain hanya menjadi sumber modal untuk pembangunan sekolah tanpa dipedulikan oleh sekolah. Bukan hanya itu, guru yang melihat beberapa muridnya yang baik, ia akan mengabaikan tugasnya sebagai guru karena merasa anak didiknya sudah baik sehingga tidak usah dipikirkan lagi.
Dikarenakan hanya mencetak pekerja menyebabkan mereka yang lulus hanya bersaing dalam mencari pekerjaan. Pada akhirnya mereka yang kalah saing menjadi pengangguran dan menjadi beban masyarakat. Ini lebih menyulitkan ketika seseorang yang telah lulus dari sekolah yang standarnya baik, dia akan selalu berharap mendapat pekerjaan yang akan memberikan gaji tinggi dengan pekerjaan yang ringan. Jika ini terus terjadi dengan makin sedikitnya lowongan kerja, maka pengangguran akan semakin bertambah. Untuk mencegah keburukan yang semakin parah, maka harus ada kiat-kiat yang dilakukan diantaranya :
Pemerataan Siswa di Sekolah
Pembedaan siswa yang terjadi dari siswa yang berprestasi dengan siswa yang biasa-biasa saja akan menciptakan sistem kasta disetiap siswa. Siswa yang berprestasi biasanya akan lebih dipuji dan disegani. Akibatnya setelah keluar dari sekolah, mereka tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan. Berbeda dengan siswa yang tidak dianggap atau kurang diperhatikan akan mengakibatkan kebencian mendalam bahkan akan berefek buruk pada masyarakat. Maka dari itu, perlu adanya pemerataan dan tidak membeda-bedakan antara murid yang satu dengan yang lain. Namun dalam bentuk pengajaran, yang belum menguasai harus dikhususkan agar pemahaman siswa dapat merata.
Pendidikan Wirausaha
Tingginya permintaan pekerjaan dan minimnya lowongan pekerjaan akan menyusahkan lulusan sekolah formal untuk mendapatkan pekerjaan. Adanya sekolah kejuruan memang lebih memudahkan siswanya untuk bekerja karena disiapkan untuk itu. Namun tidak semua siswa dapat terjaring dan sisanya akan mengalami kesulitan yang akibatnya mengalami kebuntuan dalam artimenjadi pengangguran. Ketakutan akan pengangguran inilah yang seharusnya disadari oleh semua pihak, jangan karena sudah menjadi guru kemudian mengajar tidak mempedulikan anak didiknya ke depan. Maka dari itu haruslah adanya pendidikan kewirausahaan untuk mengantisipasi terjadinya hal buruk akibat tidak mendapat pekerjaan.
Membagun Jiwa Kreatif
Guru tidak boleh mendokrin muridnya untuk setuju dengan pendapatnya sendiri, seorang guru harus menghargai pendapat siswa agar keberanian siswa muncul sehingga lama kelamaan keluarlah jiwa-jiwa yang kreatif dan mau berpendapat positif dari para siswa. Jiwa kreatif sangatlah dibutuhkan oleh siswa dikarenakan kehidupan diluar sekolah akan jauh berbeda. Untuk itulah harus dipersiapkan oleh setiap siswa untuk berpikir inisiatif yaitu dengan melalui pendidikan yang inovatif dan tidak mematikan karya-karya siswa.
Namun aspek tenaga pendidik dan lembaga pendidik belumlah cukup menjadikan sebuah pendidikan yang berkarakter. Masih perlu adanya dukungan dari anak didiknya. Jika dari aspek pendidik dan lembaganya sudah terbaik namun anak didiknya tidak mendukung maka hasilnya pun tidak akan maksimal.Banyak faktor yang menjadikan anak didik kurang berseteru dalam memaksimalkan pendidikan, faktor-faktor tersebut sangatlah banyak namun di sini akan kita bahas tentang sambungan kemiskinan dengan pendidikan karena masalah pendidikan yang banyak terjadi di Indonesia adalah ketidakmampuan untuk membiayai sekolah.Biaya sekolah yang mahal membuat masyarakat miskin lebih memilih anak-anaknya untuk mencari uang. Adanya sekolah SBI, RSBI, SSN dan lainnya mengakibatkan sekolah berlomba-lomba dan menjadikan biaya SPP semakin mahal sehingga orang-orang miskin tidak mampu untuk bersekolah. Walaupun ada yang namanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ataupun tunjangan lain, tetap saja ada alasan sekolah untuk menaikkan SPP. Pendidikan memang sudah gila,di kota-kota besar yang harusnya sekolah menjadi lembaga untuk mendidik justru malah menjadi proyek jutaan rupiah. Kenyataanya di beberapa sekolah bantuan pemerintah selalu datang,namun SPP terus naik walaupun memang pembangunan berupa gedung ataupun fasilitas terus terjadi, namun guru-guru dan karyawannya pun juga semakin makmur. Padahal masih banyak sekolah pinggiran yang seharusnya bisa dibangun dengan tunjangan tersebut.
Pada tahun 2011 jumlah penduduk miskin Indonesia yang tercatat di Badan Pusat Statistik ada sekitar 12,36 persen dari jumlah penduduk Indonesia, atau lebih kurang 29,89 juta penduduk miskin.Anak-anak yang terlahir dari orang tua miskin harus menanggung beban orang tuanya yang miskin sehingga pendidikannya terhambat. Pada akhirnya program pemerintah wajib belajar 9 tahun tidak terealisasi sepenuhnya. Munculnya tingkatan sekolah yang menyandang gelar SBI membuat rakyat miskin semakin sulit untuk mencari sekolah yang murah. Hal ini dikarenakan setiap sekolah berlomba menambah fasilitasnya agar berharap mutu bisa naik. Akibatnya siswa yang menanggung beban berupa biaya pendidikan yang mahal, di lain sisi sekolah yang murah tidak bisa dianggap layak, bahkan ada sebagian yang hampir roboh. Untuk membantu rakyat miskin dalam pendidikan bukanlah dengan diadakannya program pendidikan gratis. Dengan adanya pendidikan gratis justru akan ada kecenderungan di sebagian orang bahwa pendidikan tidak ada harganya. Solusi yang tepat adalah menjadikan siswa itu terikat, dalam arti bahwa saat mereka mendapat pendidikan mereka tidak menanggung biaya langsung namun dengan biaya setelah tamat belajar. Memang program rencana biaya setelah tamat belajar terlihat rumit. Namun jika dilaksanakan, siswa yang telah lulus akan selalu dibayang-bayangi hutang dan terus berusaha agar mendapat uang untuk membayarnya. Sehingga pengangguran sedikit demi sedikit akan berkurang. Namun aspek yang paling mendasar adalah adanya niat dan kemauan dari anak didiknya sendiri untuk belajar.
Masih banyak aspek yang harus dijabarkan untuk membangun sistem pendidikan yang mutu. Namun pada dasarnya kesemuanya akan memusat kepada tiga aspek saja yaitu rencana pengajaran, guru pengajar dan siswa yang diajar sedangkan lembaga atau penyelenggara yang kita sebut sekolah itu hanya sebagai sarana untuk menjalankan sistem pendidikan. Tiga aspek yang saling berhubungan tersebut jika dilaksanakan dengan maksimal dapat membuat suatu pendidikan yang berkarakter kuat dan cerdas.

by: Choerin Amri

ke atas