Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Efek Rumah Ada Kacanya

Assalamualaikum,

Waduh udah lama banget tidak nulis yang aneh-aneh di blog (hha..) kenapa ya, AskBNI (lho ga nyambung). Kalau bukan karena ada kompetisi gini males banget nulis begini, apalagi hadiahnya lumayan. Tetapi yang jadi aneh ketika aku coba cari-cari yang ikut kompetisi ini malah beberapa ada yang mempromosikan #AskBNI, sebenarnya tidak apa sih tapi aneh aja untukku, soalnya dikententuannya tidak ada (ngapain juga promosi kalau ga dibayar, piss... Y). 

Sebelum aku cerita tentang pengalamanku (ketentuannya suruh tulis pengalaman soalnya), aku juga ingin promosikan nih tapi bukan promo #AskBNI. Promonya itu ya ikut kompetisi ini aja masih ada tujuh hari hadiahnya lumayan (malah cari pesaing hha..), buka aja ini link. Aku tidak masalah kalah atau menang, tidak bayar juga kompetisi ini alias gratis. Okey selanjutnya baca ini ceritaku ya...

Choerin with His Brother

Ini adalah kisah nyata yang sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga seakan-akan fiktif namun sebenarnya fakta. Kisah ini menceritakan mengenai pengalamanku yang telah lama terjadi namun masih pada abad 20. Saat itu aku masih belia yaitu seumur anak SD. Bermula dari obrolan tidak penting anak-anak umur 9 tahunan di dalam kelas. Temanku yang kami panggil Ozy bercerita, sebelumnya saya ingin ceritakan dulu siapa Ozy secara singkat. Ozy itu teman satu kelasku, tinggi badannya yang paling tinggi di kelas, sama guruku saja masih tinggi dia. Rumah Ozy beda kecamatan denganku namun sebenarnya hanya dibatasi oleh kali pelus saja, jaraknya mungkin sekitar 1 Km saja dengan rumahku. Melanjutkan cerita, alkisah si Ozy ini cerita mengenai pengalaman bersama teman-teman di rumahnya mengenai petualangan bersepeda. Dia menceritakan mengenai jembatan gantung yang dia temui di Kelurahan Pliken. Aku yang pernah melihat jembatan gantung di Mersi langsung ambil bicara,
“Oh jembatan gantung yang di Mersi itu?”
“Bukan rin, kalau itu sih aku tahu”
Kemudian dari rasa penasaran itulah bermula dalam benakku, aku harus tahu itu jembatan letaknya di mana. Pada waktu itu, jembatan gantung adalah area yang memang sangat aku kagumi, pasalnya jembatan gantung yang pernah aku temui di Mersi melewati kali Pelus dan lebarnya itu lumayan. Selain itu jembatan gantung adalah suatu yang menakutkan bagi orang tuaku, pernah aku dimarahin karena cerita bahwa aku pernah ke situ dengan adikku. Aku suka sekali jembatan gantung, “bentuknya yang sederhana hanya dengan lantai kayu dan tali baja bisa membentang lebar kali entah bagaimana pendahulu membuatnya” pikirku saat itu.

Berawal dari itulah pada saat libur sekolah aku rencanakan ekspedisi pencarian jembatan gantung Pliken. Bermodalkan tiga sepeda dan empat orang kami berangkat melakukan pencarian setelah sholat subuh. Bersepeda adalah hobiku dari kecil, hampir setiap minggu aku mengajak teman-teman rumahku untuk bersepeda keliling desa. Maka dari itulah aku mengajak temanku untuk melakukan ekspedisi ini. Hanya sebatas pengetahuan dari empat orang ini dan ilmu kira-kira tanpa terlebih dahulu bertanya kepada orang tua ataupun tetangga kami nekat untuk melakukan pencarian. Kami tidak tahu Pliken itu di mana hanya mengira bahwa Pliken itu ada setelah daerah Ledug. Ledug adalah area terjauh yang pernah kami lalui dengan sepeda setiap minggu, maka dari itu ekspedisi ini akan di luar area bersepeda sebelumnya.

“Mas, hari ini sepedaan ke mana?
“Aku ingin cari tentang jembatan gantung Pliken”
“Jembatan gantung yang di Mersi”
“Bukan katane temanku ada lagi di daerah Pliken”

Pada waktu itu yang mau pergi bersamaku hanya empat orang biasanya lebih dari itu sekitar tujuh sampai sembilan. Kemudian perjalanan itu kami mulai dengan menyusuri jalanan yang masih gelap gulita karena lampu jalanan sudah dimatikan pada saat orang-orang pulang dari mushola, waktu itu matahari belum muncul sinarnya. Kami pun bersepeda sampai daerah Ledug, ada persimpangan saat itu, ketika lurus maka ke tempat pembuatan bata yang baunya sangat menyengat jika belok adalah perumahan. Kami ambil jalan masuk perumahan, di dalam perumahan itu kami berputar-putar seperti masuk jalan yang sebenarnya tidak ada tembusnya sampai menemukan jalan baru yang belum kami lalui. Jalan itu kemudian kami ambil, selang beberapa lama ada persimpangan aku arahkan saja teman-temanku untuk belok kiri. Beberapa meter kami jalan aku memberhentikan sepeda,

“lho kok kaya hutan...”
“mas bener ga jalane?”

Mereka sebenarnya belum aku kasih tahu kalau aku sedang mengajak mereka karena aku tahu tapi untuk mencari tempatnya.

“jalan terus bae, masih ada jalan”

Kami terus berjalan lagi sampai ada sawah di kanan kiri kami, hatiku rasanya sangat lega sekali karena keluar tempat yang seperti hutan tadi dan melihat sawah yang luas. Daerah sawah yang luas seperti ini jarang aku temui di desaku, paling-paling hanya 200 meter persegi apa lagi saat ini sudah mulai terkikis oleh bangunan rumah. Jalanan itu mulai terlihat dengan sinar matahari yang mulai naik, segar rasanya udara yang sejuk seperti ini tak akan pernah bisa terlupa. Perjalanan terus dilakukan, pada saat itu aku terkaget sekaligus takut saat aku membaca tulisa desa Bojong. Saat itu aku berpikir bahwa kami telah memasuki daerah yang sangat jauh apalagi nama Bojong yang asing dan terkesan magis dalam pikiranku. Setelah teman-temanku merasa capek kami berhenti di sebuah tanggul selokan. Kami merasa bahwa matahari sudah tidak bersahabat, panasnya mulai membuat berkeringat badan selain itu kami tidak membawa bekal apa pun. Akhirnya kami pun pulang sebelum menemukan jembatan gantung itu. Karena dirasa sudah jauh dan lelah aku menyuruh Ganang untuk menjadi penunjuk jalan pulang.

“nang maju kamu yang tunjukkan jalan pulang”
“ya mas aku tahu jalan pintasnya, aku kayaknya pernah lewat sini”

Kami percaya saja dengan yang ditunjukkan oleh Ganang, karena dia mengakui bahwa tahu daerah ini. Awalnya jalan yang kami lalui berbeda dengan jalan berangkat. Aku saat itu mulai ragu karena jalan yang diambil bukan jalan aspal. Lama-lama jalan berubah menjadi tanah berlumpur kemudian memasuki sawah sehingga berada di tengah-tengah petak-petak sawah. Sesekali kami menemui kandang sapi. Sampai masuk lagi jalan aspal dan terdapat persimpangan, Ganang mengambil jalan kiri, di sini aku mulai berpikir bahwa kami hanya berputar-putar dari tadi.

“Ganang ini jalan yang tadi, kayaknya bukan ini harusnya belok kanan”
“gak mas, benar ini jalan aku masih inget koh”

Tinggi matahari pada saat itu sekitar 15o yang menandakan bahwa ini sudah jam 7, jika pada saat itu masuk sekolah maka  jam ini adalah sudah terlambat dan pasti akan di strap oleh bu guru di depan kelas. Merasa tertipu dengan ingatan Ganang aku memberhentikan sepeda. Aku memutar balik dengan instingku aku arahkan jalan yang menurutku benar.

“stop... sudah ikuti aku saja”
“benar ini koh mas, jalannya aku masih ingat”
“sudah, ini jelas salah dari tadi cuman muter-muter doang”
“apa iya mas berarti kita tersesat ini..?

Kemudian jalan pulang akhirnya kami temukan dan kami bisa pulang ke rumah pada jam 8 ketika matahari mulai panas. Aku sadar ekspedisi ini gagal, perjalanan yang sudah dilalui tadi sia-sia, waktu yang terbuang dibayar dengan rasa capek, haus dan lapar karena menempuh perjalanan sepeda 4 jam lamanya tanpa bekal. Inilah yang menjadi pelajaran seharusnya sebelum berangkat kami mencari informasi terlebih dahulu di mana itu daerah Pliken. Kemudian yang perlu diperhatikan lagi saat perjalanan kami harusnya bertanya jika memang tidak tahu sehingga bisa ke tempat tujuan yaitu jembatan gantung Pliken dan bertanya ketika pulang sehingga tidak tersesat jalan pulang.

Itulah tadi sediki pengalamanku mengenai mau bertanya nggak sesat di jalan. Tidak harus mengenai alamat, bertanya apapun jika memang tidak tahu jangan sampai malah terlanjur salah. Memang bertanya itu sangatlah penting jika memang belum tahu, makannya bertanyalah, orang yang mau bertanya nggak sesat di jalan. Tapi lebih baiknya lagi jika bertanya pada yang memang ahlinya, ketika mau bertanya tentang ilmu tanya ke guru, alamat tanya tetangga, makanan tanya koki, tanya seputar BNI tanya #AskBNI. Yang baca tolong doakan ya biar ini artikel  menang(hha...)

Suara Rakyat ato Suara Mahasiswa?

Assalamualaikum,

Aksi emmh... Sebelumnya saat anda membaca ini seperti biasanya saya tidak akan membuat anda mudeng(mudengna sendiri lha ya). Coba apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata aksi? Action, gerak, langkah, dsb. Namun jika ini ada dikalangan mahasiswa maka kata aksi akan cenderung pada perbuatan demo, gerakan mahasiswa, turun jalan sampai aksi yang ilmiah(ya ikut lomba2 atau apalah). Inilah yang katanya dari sebagian mahasiswa sangat dibangga-banggakan bahkan ada yang bilang kalau ga pernah aksi maka bukan mahasiswa.

Sebelum masuk dalam konteks yang lebih jauh saya ingin bercerita tentang hari ini(paling sampai akhir juga cerita). Hari tepatnya ba’da Jumatan ada aksi penurunan BBM(mandan piye lha sudah diketuk naik masih mau demo). Aksi ini berjalan mulus tanpa ada anarkis namun ada pengganggu dari luar ingin membuat rusuh, “Barjos turun...” dalam hati, “Eka ngapain kamu kalo pengin ngliput ga usah buat anarkis deh”, saya pernah melihat orang ini dia tu wartawan pernah ngisi training media di NHIC, saya baru tau memang untuk sebuah pemberitaan wartawan pun juga turut membuat skenario agar berita itu seakan-akan nyata(memang busuk pancen media sekarang). Dulu iya saya tanya saat di NHIC, (kurang lebihnya)”pernah tidak membuat berita yang memutar balikan fakta”, jawabannya bahwa yang benar itu tidak boleh disalahkan dan yang salah tidak boleh di benarkan itu “dosa”, (preketek preet) namun hari ini sungguh kekecewaan atas penglihatan tersebut, saya pengin tau nih apa berita yang keluar nanti(jangan2 “mahasiswa anarkis pada wartawan). Lepas dari itu ada yang luar biasa, di solo ketika berdemo putra-putrinya tidak membaur campur seperti di daerah lain jadi formasinya yang laki-laki jadi pagar luar perempuannya di dalamnya, “rapatkan barisan” langsung semuanya merapat, ada yang menarik di sini, "akhwat jaga jarak..akhwat jaga jarak" jadi korlap akhwatnya menyuruh agar tetap menjaga jarak dengan ikhwannyaa. Saya sempat berpikir ni saya sebenarnya ada di negara islam di dalam sebuah negara, luar biasa mungkin sangat berbeda dengan daerah lain(kapan2 saya ingin bercerita tentang ini).

Lanjut materi, demo sebenarnya pengaruh gak sih? Dahulu saya sering melihat di televisi mahasiswa anarkis, bentrok saat berdemonstrasi, ya itu memang nyata. Namun ketika saya sekarang menjadi mahasiswa ternyata awal dari keanarkisan tersebut terkadang bahkan sering dari pihak luar yang ingin cari gara-gara. Memang benar banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengaspirasi suara rakyat namun terkadang aksi turun ke jalan lebih disenangi oleh banyak pihak istilah islamnya amal jama’i(hehe...beramal bareng-bareng kaya pas jumatan saja). Bahkan banyak yang menganggap bahwa dengan aksi turun ke jalan maka media akan mensorot dan membuat takut pemerintah namun(pemerintah yo pinter) lebih sering media membuat berita yang tidak-tidak.

Munculnya pemberitaan yang heroik tentang demonstrasi sungguh membuat masyarakat takut. Sampai-sampai hampir semua mahasiswa ketika akan masuk perguruan tinggi diberi pesan oleh orang tuanya untuk tidak ikut-ikutan. Bukan hanya itu terkadang citra mahasiswa menjadi jelek akibat pemberitaan yang dibuat-buat. Sekarang ini yang jadi permasalahan adalah apakah benar yang didemokan adalah aspirasi dari masyarakat?

Mahasiswa sekarang dan mahasiswa dahulu yang saya liat banyak perbedaannya, mahasiswa sekarang terlihat lebih berfikir abstrak dari pada realita(bener gak sih?). Ketika muncul suatu isu terkadang seorang hanya menganalisa dari sebuah pemikiran bukan dari data yang dicari dari lapangannya langsung. Ini yang membuat banyak kalangan kurang mendukung karena tidak sepenuhnya sama seperti yang dianggap-anggap, contoh BBM naik, ada yang pro dan ada yang kontra namun apakah benar mayoritas masyarakat kebingungan? Mungkin dalam teorinya iya dan jika terjun ke lapangan benar adanya, namun yang salah di sini adalah jika hanya mengkaji tanpa ada data yang falid maka bisa jadi suatu ketika aksi malah ditolak oleh masyarakat.

Memang terkadang aksi turun ke jalan itu perlu, khususnya jika memang punya masa banyak. Akan tetapi aksi turun ke jalan seharusnya adalah cara terakhir jika sudah tidak ada jalan lain, masih banyak cara untuk mengaspirasi suara rakyat. Saya teringat cerita dari mantan aktivis kampus, beliau bercerita ketika teman-temannya berdemo beliau malah masuk ke kantor Bupati berdialog sambil bercanda kemudian disuguhi pula(tau suguh? Suguh itu pa ya... kaya medang) namun pada akhirnya malah yang diinginkan bisa terwujud(dan tidak capek...).

Inilah yang lama kelamaan menjadi sebuah pemikiran yang membingungkan, dan akan muncul suatu pertanyaan,”sebernernya ini suara rakyat apa suara mahasiswa?”(mahasiswa kan juga masyarakat). Banyak hal yang bisa kita datangi ketika kita ingin mendapatkan suatu informasi(di angkringan juga bisa). Untuk membuat suatu isu sudah seharusnya juga ada data yang benar agar saat penyampaiannya tepat sasaran.

Aksi ke jalan ramai-ramai memang sungguh menyenangkan karena banyak teman dengan tujuan bersama. Ini hampir sama dengan jalan sehat hanya saja sambil teriak-teriak. Menyenangkan rasanya ketika bisa berjalan bersama namun hanya yang punya keberanian yang disarankan ikut karena terkadang banyak hal yang tidak terduga. Pada akhirnya(intinya) hasil kesimpulannya ga jelas adanya(maksude opo?).



by: Choerin Amry

Wanita Menganggur???


Assalamualaikum,

pabelan 2012

   Kemarin saya pulang dari Solo naik kereta logawa, saat sampai di Lempunyangan saya diusir dari tempat dudukku di gerbong 3 karena ada yang merasa memiliki bangku tersebut. Saya berjalan menuju ke gerbong 4 untuk mencari tempat duduk, saat sekilas sedang jalan saya terkejud melihat gadis memakai jaket KOMPAKS bertuliskan”high....” sebagian tulisan tertutupi krudung, mungkin highhiils ato highclass jgn2 royalclass(dubleg Efisiensi mbok). Sepanjang perjalanan saya terpikir siapa gadis itu(toeng..toeng..), mukanya merunduk saya tidak tahu siapa dia tulisan namanyapun High.... seperti bukan nama(lha mbuh). 

Saya duduk di pojok depan gerbong 4 terdiam dan senyum sedikit sesaat melihat depanku ada seorang ibu memainkan bayinya. Sebelah kananku (sebelah sebrang) ada nenek-nenek dan cucunya, terlihat nenek itu agak cemberut menanggapi cucunya yang usianya mungkin sekitar 9 tahun yang agak cerewet, mereka berdua berniat akan turun distasiun Kebumen. 

“bapaknya sudah meninggal”, kata si mbah 

“ibunya kerjanya apa mbah, suster y mbah” 

“ibunya kerjanya ibu rumah tangga” 

Dari kata-kata ini saya berpikir panjang sekali, ternyata seorang perempuan itu selama hidup tidak pernah mempunyai status “menganggur”, saya beru sadar istilah itu hanya berlsaya pada laki-laki. Ehm.... bener juga ya, oleh sebab itulah peran seorang wanita benar-benar sangat besar karena tidak ada istilah nganggur.

Yayaya...
Choerin image @ pabelan 2012

Saat di Solo saya sering melihat kuli membangun bangunan(di PWT jg bnyak), namun yang saya herankan ternyata beda banget dengan di Banyumas yang dulu saya tinggal, yang namanya gender benar-benar terlihat disini. Bukan hanya laki-laki yang mengangkat batu namun ibu-ibu pun ikut membawakan adukan semen. Ya Allah bumi dibalik tetap saja bundar(mungkin bumi memang sudah terbalik(bumi tidak akan pernah terbalik)) sama halnya ego manusia tidak akan pernah berubah, kalaupun bisa pasti dikarenakan ada sesuatu hal yang terjadi. 

Tapi....

Yayaya..

Yang namanya wanita memang banyak istilahnya bila dikuliti(eh maksudnya dikupas) panjang lebar. Kalo sekarang itu istilah kerennya wanita karrir dalam ilmu sosiologi yang namanya wanita karrir adalah suatu hal yang menyimpang(jrene pak Samsuri) namun penyimpangan itu adalah penyimpangan yang positif(penyimpang = berbeda = min dari sesuatu = berkurang = lawan dari tambah= lawan positif = negatif..... penyimpangan positif???). Mengapa dibilang penyimpangan positif karena diera ini yang namanya perbedaan gender itu sangat diperdebatkan bahkan ada yang bilang, “sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya”(tapi jamannya inem pembantu seksi...hehehe...), bahkan ada yang bilang “sekarang laki-laki dan wanita itu setara gak kaya dulu wanita harus dibawah lelaki”(y udah benerin gendeng yang bocor ja sana).

 Keluar dari konteks gender dan kembali ke topiksssss, ternyata yang namanya wanita itu hebat sekali lho. Nama-namanya bener-bener di tinggikan coba cari pahlawan wanita dalam buku sejarah, jarang sekali ada namun ketika itu ada namanya benar-benar suatu yang luar binasa(maksudnya luar biasa) semisal Cut Nyk Dien, R.A. Kartini, Ibu, dll. Namun prihatin ga sih ketika anda melihat ke TV para wanita beranjlok-anjlok, jingkrak-jingkrak di TV(mungkin kaya orang gila) mereka lebih senang begitu katanya inilah persamaan gender(gender maning) padahal kelakuan tersebut malah menjatuhkan harga diri mereka telah tertipu oleh hasutan, itu hanya membuat nafsu para lelaki!!!!!

 Mumet..(ceritane jadi ke gender trus y wislah ra popo) 

Ya saya akui perasaan itu bahwa wanita itu tidak harus dibelakang(di depan jg bolehhh), namun jika itua hanya untuk eksis saja atau hanya untuk kesenangan buat apa setelah mati tidak pernah akan terasa itu. Suatu konsepan itu tidak harus terlihat bahkan suatu rencana yang besar hanya ada rahasia yang tersembunyi seperti halnya rencana Zionis yang rencananya sudah ratusan tahun lalu namun baru terbongkar hari ini mungkin rencana2 sekarang baru bisa terbongkar ribuan tahun yang akan datang. Itulah pentingnya pengonsepan(lho ora nyambung) bahkan ada pepatah, “ Di belakang laki - laki hebat, tersembunyi wanita yang luar biasa"
(omongane sapa mbuh), bahkan nabi pun pernah berkata ”wanita adalah tiangnya negara”, ya kata ini sudah mewakili semua.Coba pikir bodohnya ya, tembok(sbg tiang rumah) dicat agar lebih kokoh dan tahan lama, wanita(tiang negara) g pke baju(malu donk) akhirnya ga tahan lama kan mudah roboh, lainnya kalo tiang digoyang2kan bangunannya lama2 robohkan kalo wanitanya berjogedan di atas panggung(asik SBY goyang) negara bisa runtuh. Mungkon jika Kartini hidup lagi(orang pada lari ketakutan) mungkin dia akan bersedih melihat wanita di era ini(ato ikut joged mungkin ya serr). 

~Tamad~

 Choerin Amri
 Ahad, 15 Rabiul awal

Mimpi Buruk

Assalamualaikum, 

Sabtu 23 Juni 2012 Pukul 03.51.45
      Aku bangun tadi sekitar jam 03.30 sebuah waktu yang mungkin kesiangan mungkin juga masih pagi namun memang jam segitu aku minta Allah membangunkanku untuk sholat tahajut. Alarm aku pasang jam 02.00 namun jika bunyi saat jam sekian langsung aku matikan karena bukan Allah yang membangunkan. Semalam aku bermimpi intinya aja ya, ada golongan islam saling mengejek namun ejekan ini bukan dalam praktiknya langsung(mudenglah y....) dan aku berada dalam salah satunya, tiba2 alarmku bunyi akupun bangun sambil melihat jam “03.19” dalam pikirku seharusnya jam 03.30 jadi aku tidur lagi, mimpiku berlanjut aku melihat ada sekelompok orang sedang memberi bantuan kepada umat islam lain yang sedang mengalami penindasan oleh orang kafir, aku melihatnya seperti di kawasan negara-negara Arab namun pemberian bantuan itu bukan semata mata melainkan untuk saling bersaing dalam golongan itu dengan golongan yang lain yang sesama islam, bersaing disini jangan dimaksudkan perlombaan akan tetapi bersaing seperti perang dingin.

     Aku bangun aku sadar bahwa Allah telah membangunkan aku tepat seperti biasa  03.30 y mungkin detiknya ga pas namun menitnya pas tepat di jam dinding kamarku. Saat bangun aku seperti prihatin dengan mimpiku tadi, dari kemarin aku liburan ga ngapa2in ngalamun seharian kalo ga da kerjaan, main game sampai malam, memikirkan seseorang eh bukan 2 orang eh bukan banyak orang yang ga da gunanya dan memikirkan suatu yang penting namun ga kelar2 yaitu bagaimana dapat duit. Seungguh terbuang waktuku, namun aku harus berbuat apa?, kebingungan masih menyelimutiku, kemarin aku pinjam buku banyak namun belum aku baca semua karena males. Apakah ini cermin muslim saat ini ataukah hanya aku yang seperti ini?.(hanya selingan)

      Kalau umat islam masih saja bermusuh-musuhan seperti ini kemana akhirat nantinya? Aku pernah baca suatu kisah, kisah ini terjadi di zaman Islam masih menjadi dinasti saat itu ada sebuah perundingan orang-orang kafir di dekat portugal mungkin sebelahnya atau di dalamnya soale aku belum lahir, mereka berbincang,”bagaimana cara mengalahkan umat islam yang begitu kokoh apa sebenarnya kelemahannya”, kemudian mereka menyuruh orang untuk memata-matai umat islam. Sampailah orang tersebut di negeri yang mayoritas islam dan mendengar kaum pemudanya saling menyombongkan diri(positif),”akulah ahli sastra siapa yang mau berlomba sastra padaku?”,”akulah ahli kimia siapa yang bisa menyaingiku”,”penunggang kuda tercepat adalah aku siapa yang bisa menyalipku”,”akulah...dll”, orang mata-mata tadi lapor kepada pemimpinnya kemudian disuruhnya kembali untuk terus memata-matai terus sampai bertahun-tahun. Suatu ketika orang mata-mata tadi(mungkin udah ganti orang karena sudah bertahun-bertahun) melihat pemuda menangis,”hai pemuda mengapa kamu menangis?”,”aku menangis karena wanitaku(mungkin istilah sekarang girlfriend) meninggalkanku”, mendengar itu seketika mata-mata tadi kembali ke pemimpin mereka, dan pemimpinnya berkata,”sudah saatnya kita menyerang”.

       Itu bukan kisah karangan Choerin Amri, inilah yang hampir kita rasakan sekarang kejadian yang mungkin sudah ratusan taun lalu sedang mereka rencanakan kembali. Lihatlah sekarang pemudanya pada pacaran(nyong ora...nyong ora....), yang ga pacaran pada musuh-musuhan dengan fanatik golongan, yang ga keduanya hanya terdiam bingung(kaya nyong tapi insyaAllah besok udah g) dan hanya sebagian yang berpikir dan bertindak namun justru orang yang berpikir dan bertindak ini malah ditertawakan(prihatin kudunelah). Kemarin-kemarin(kemarin lusa berarti?bukan itu tahu maksudnya lah y, kaya halnya kapan2 tp ke masa lalu) aku ke Kelurahan waktu itu aku mau tanya tentang PNPM itulah yang untuk pengembangan Desa, aku lihat di TV bisa untuk pinjaman modal usaha. Saat sedang mengantri aku lihat teman lamaku sedang diledeki sama petugas situ,”Kknya asli mana mba?” aku kira dia sedang buat KTP namun kisah punya kisah ternyata sedang buat akta kelahiran. Kita flashback sebentar 3 tahun lalu aku sering sepedaan pas liburan panjang kelulusan, aku sering lewat deket rumahnya tingkahnya masih kaya anak2 pernah saat itu aku lewat dia manggil,”erin..” saat aku nengok dia lari sembunyi namun saat aku sudah masuk kelas 10 SMA aku sepedaan sudah ga pernah liat dia lagi baru kemarin ini. Setelah aku ikuti pembicaraan itu ternyata dia sudah nikah di tahun 2009, dan yang fatalnya ternyata sudah hamil dulu. Ini kisah nyata bener sumpah bukan sinetron dulu aku cuman liat di TV sekarang aku lihat kejadiannya pada temanku sendiri, apakah harus semua pemudanya begini dulu baru sadar?
       Memang orang kafir itu nakal-nakal di depan kelihatan ramah dibelakang mbuh namun sebenarnya ramah yang itu menjerumuskan, kaya baene(kaya nama bakteri,”anabaena”) sundel bolong dari depan kelihatan cantik tapi ternyata gegere bolong belatungan kalo jalan mereng2 biar ga kelihatan bolongane, ya memang ga semua ada juga yang bener2 baik tapi.....? Mereka ga mau susah-susah mengajak kita untuk masuk budaya mereka, tinggal aja disiarin di TV, novel, majalah, dan mungkin mereka contohkan sediri. Bukan karena kita tidak tahu, gimana sih y la wong enak.
---
25 Juni 2012
    Tadi aku ke Gramedia iseng-iseng ambil buku kecil yang nyempil rak deket rak yang kategorinya komputer. Kok aneh dari kovernya ada tulisan yang maknanya untuk remaja, begitu aku buka dan baca ternyata isinya adalah pengalaman-pengalaman remaja-remaja yang melakukan ciuman pertama dalam hati ya Alloh bisane ada buku yang ngrusak moral di sini. Mau tek beli semua terus tek bakar nanti malah jadi best seller karena kejual habis dibiarin nanti malah tersebar, dalam hati ini buku mengajarkan agar remajanya untuk berciuman itu baru hari ini kalo semua remaja sudah begitu bakal keluar buku apa lagi? First mak...... yang aku ga habis pikir bisane gramedia nerima buku kaya gini dijual apa, apa jangan2. Sempat terpikir dalam hati jahatku waduh kalau ini tersebar dan aku belum punya girlfriend dan tidak melakukan seperti itu nanti bisa2 aku hanya dapet bekas, namun aku teringat janji Allah dalam QS An Nur:20
 
wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).

     InsyaAllah kalo aku bisa menjaga diriku pasti Allah melindungi jodoh-jodohku, biarlah yang bekas untuk yang bekas juga. Pulang-pulang dari Gramed eh malah ban sepedaku bocor ya wis mlaku(apaloh ora nyambung). Perlu saya ingatkan ya, hati-hatilah para wanita jagalah dirimu karena apa, karena kalo wanita udah rusak maka akan sulit diperbaiki, aku tulis seperti ini karena wanita itu barang yang mahal seperti halnya barang pecah belah yang mahal harganya namun jika sudah pecah siapa yang mau beli?

     Berhati-hatilah untuk umat muslim seluruhnya, apa yang kita lihat ini nikmat, enak itu tidak semuanya baik. Mereka memang terlihat apik namun apakan benar kebaikannya?

orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al Baqoroh:120)

    Bisa dilihat tulisan yang tebal pada ayat tersebut, saya tuliskan lengkap bukan potongan dengan maksud agar tidak menjadi rancu karena ada sebagian dalil yang memang jika diambil hanya potongannya saja maka maknanya akan beda jadi jangan mudah percaya jika dalil disebutkan hanya potongannya saja apalagi jika yang menyebutkan bukan orang islam semisal... eh malah jadi beda jalur. Intinya kita sebagai umat muslim jadilah orang muslim benar-benar orang muslim jangan cuman beragama islam, jangan pada musuh-musuhan, jangan terpengaruh budaya yang buruk,”kan masih muda nanti kalo udah puas baru tobat” ya kalo lagi di jalan ga ketabrak bis, ya kalo lagi makan ga keracunan, ya kalo intinya belum mati.


ZAID BIN HARITSAH


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri melepas balatentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah, melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:
"Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan liambil alih oleh Ja'far bin Abi Thalib; dan seandainya Ja'far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Ra wahah ".
Siapakah Zaid bin Haritsah itu? Bagaimanakah orangnya? Siapakah pribadi yang bergelar "Pencinta Rasulullah ltu"'
Tampang dan perawakannya biasa saja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh ahli sejarah dan riwayat. Tetapi sejarah hidupnya hebat dan besar.
Sudah lama sekali Su'da isteri Haritsah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma'an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak shabar lagi menunggu waktu keberangkatannya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya ialah ayah Zaid, mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su'da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. Di waktu ia akan menitipkan isteri  dan  anaknya  kepada  rombongan  kafilah  yang  akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia harus menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, disertai perasaan aneh, menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putera dan isterinya ....
Demikianiah, ia melepas isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tidak berada di tempatnya yang biasa.
Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama rombongan kafilah.
Setelah beberapa lama Su'da berdiam bersama kaum keluarganya di kampung Bani Ma'an,.hingga di suatu hari, desa itu dikejutkan oleh serangan gerombolan perampok badui yang menggerayangi desa tersebut.
Mampung itu habis porak poranda, karena tak dapat mempertahankan diri. Semua milik yang berharga dikuras habis dan penduduk yang tertawan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah. Dengan perasaan duka kembalilah ibu Zaid kepada suaminya seorang diri.
Demi Haritsah mengetahui kejadian tersebut, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya ia berjalan mencari anaknya. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir dijelajahinya. Dia bertanya pada kabilah yang lewat, kalau-kalau ada yang tahu tentang anaknya tersayang dan buah hatinya  "Zaid"
Tetapi usaha itu tidak berhasil. Maka bersyairlah ia menghibur diri sambil menuntun untanya, yang diucapkannya dari lubuk perasaan yang haru:
"Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi,
Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati.
Demi AIlah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya.
Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa.
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya.
BiIa surya terbenam ingatan kembali menjelma.
Tiupan angin yang membangkitlkan kerinduan pula,
Wahai, alangkah lamanya duka nestapa diriku jadi merana"
Perbudakan sudah berabad-abad dianggap sebagai suatu keharusan yang dituntut oleh kondisi masyarakat pada zaman itu. Begitu terjadi di Athena Yunani, begitu di kota Roma, dan begitu pula di seantero dunia, dan tidak terkecuali di jazirah Arab sendiri.
Syahdan di kala kabilah perampok yang menyerang desa Bani Ma'an berhasil dengan rampokannya, mereka pergi menjualkan barang-barang dan tawanan hasil rampokannya ke pasar 'Ukadz yang sedang berlangsung waktu itu. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam dan pada kemudian harinya ia memberikannya kepada mak ciknya Siti Khadijah. Pada waktu itu Khadijah radliyallahu 'anha telah menjadi isteri Muhammad bin abdillah (sebelum diangkat menjadi Rasul dengan turunnya wahyu yang pertama).Sementara pribadinya yang agung, telah memperlihatkan segala sifat-sifat kebesaran yang istimewa, yang dipersiapkan Allah untuk kelak dapat diangkat-Nya sebagai Rasul-Nya.
Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Rasulullah. Beliau menerimanya dengan segala senang hati, lalu segera memerdekakannya. Dari pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anak sendiri.
Pada salah satu musim haji, sekelompok orang-orang dari desa Haritsah berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bundanya kepadanya. Zaid balik menyampaikan pesan salam serta rindu dan hormatnya kepada kedua;orang tuanya. Katanya: kepada para hujjaj atau jamaah haji itu, tolong beritakan kepada kedua orang tuaku, bahwa aku di sini tingal bersama seorang ayah yang paling mulia.
Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah, bersama seorang saudaranya. Di Mekah keduanya langsung menanyakan di mana rumah Muhammad al-Amin (Terpercaya). Setelah berhadapan muka dengan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, Haritsah berkata: "Wahai Ibnu Abdil Mutthalib ..., wahai putera dari pemimpin kaumnya!
Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan ....
Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan'anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?"
Rasulullah sendiri mengetahui benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tapi dalam pada itu merasakan pula hak seorang ayah terhadap anaknya. Maka kata Nabi kepada Haritsah: "Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih anda,maka akan saya kembalikan kepada anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!"
Mendengar ucapari Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegembiraan, karena tak disangkanya sama sekali kemurahan hati seperti itu, lalu ucapnya:  "Benar-benar anda telah menyadarkan kami dan anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!"
Kemudian Nabi menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya di hadapannya, beliau langsung bertanya: "Tahukah engkau siapa orang-orang ini?" "Ya, tahu", jawab Zaid, "Yang ini ayahku sedang yang seorang lagi adalah pamanku".
Kemudian Nabi mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya.
Tanpa berfikir panjang, Zaid menjawab: "Tak ada orang pilihanku kecuali anda! Andalah ayah, dan andalah pamanku!"
Mendengar itu, kedua mata Rasul basah dengan gir mata, karena rasa syukur dan haru. Lain dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka'bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lain serunya:
"Saksikan oleh halian semua, bahwa mulai saat ini, Zaid adalah anakku ... yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya':
Mendengar itu hati Haritsah seakan-akan berada di awang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malah sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan "Ash-Shadiqul Amin", -- Orang lurus Terpercaya --, keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.
Maka kembalilah ayah Zaid dan pamannya kepada kaumnya dengan hati tenteram, meninggalkan anaknya pada seorang pemimpin kota Mekah dalam keadaan aman sentausa, yakni sesudah sekian lama tidak mengetahui apakah ia celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit.
Rasulullah telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat...,
maka menjadi terkenallah ia di seluruh Mekah dengan nama "Zaid bin Muhammad" ....
Di suatu hari yang cerah seruan wahyu yang pertama datang kepada sayidina Muhammad:
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang telah menciptakan ! la telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena).
Mengajari manusia apa-apa yang tidah diketahuinya. (Q.S. 96 al-'Alaq; 1 -- 5)
Kemudian susul-menyusul datang wahyu kepada Rasul dengan kalimatnya:
Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (siaphan diri), sampaikan peringatan (ajaran Tuhan). Dan agungkan Tuhanmu. (Q.S. 74 al-Muddattsir: 1 - 3)
Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.' Dan jika tidah kamu laksanakan, berarti kamu telah menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah akan melindungimu dari (kejahatan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (Q.S. 5 al-Maidah: 67)
Maka tak lama setelah Rasul memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu itu, jadilah Zaid sebagai orang yang kedua masuk Islam ...,bahkan ada yang mengatakan sebagai orang yang pertama.
Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu  memang  pantas dan wajar, disebabkan kejujurannya yang tak  ada  tandingannya,  kebesaran  jiwanya,  kelembutan  dan kesucian hatinya,  disertai terpelihara lidah  dan tangannya.
Semuanya itu atau yang lebih dari itu menyebahkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai "Zaid Kesayangan" sebagaimana yang telah dipanggilkan shahabat-shahabat Rasul kepadanya. Berkatalah Saiyidah Aisyah radhiyallah 'anha .: "Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Nabi jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah!"
Sampai ke tingkat inilah kedudukan Zaid di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  Siapakah sebenamya Zaid ini?
Ia sebagai yang pernah kita katakan, adalah seorang anak yang pernah ditawan, diperjual-belikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya. Ia seorang laki-laki yang berperawakan pendek, berkulit coklat kemerahan, hidung pesek; tapi ia adalah manusia yang berhati mantap dan teguh serta berjiwa merdeka.
Dan karena itulah ia mendapat tempat tertinggi di dalam Islam dan di hati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena Islam dan Rasulnya tidak sedikit juga mementingkan tuah kebangsawanan dan turunan darah, dan tidak pula menilai orang dengan predikat-predikat lahiriahnya. Maka di dalam keluasan faham Agama besar inilah cemerlangnya nama-nama seperti Bilal, Shuhaib, 'Ammar, Khabbab, Usamah dan Zaid. Mereka semua punya kedudukan yang gemilang, baik sebagai orang-orang shaleh maupun sebagai pahlawan perang.
Dengan tandas Islam telah mengumandangkan dalam kitab sucinya al-Quranul Karim tentang nilai-nilai hidup:
"Sesungguhnya semulia-mulia kalian di sisi Allah, ialah yang paling taqwa!"  (Q.S. 49 al-Hujurat: 13)
Islamlah Agama yang membukakan segala pintu dan jalan untuk mengembangkan berbagai bakat yang balk dan cara hidup yang suci, jujur dan direstui Allah ....
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menikahkan Zaid dengan Zainab anak makciknya. Ternyata kemudian kesediaan Zainab memasuki tangga perkawinan dengan Zaid, hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafa'at Rasulullah, dan karena tak sampai hati  menyatakan  enggan  terhadap  Zaid sendiri. Kehidupan rumah tangga dan perkawinan mereka yang tak dapat bertahan lama, karena tiadanya tali pengikat yaitu cinta yang ikhlas karena Allah dari Zainab, sehingga berakhir dengan perceraian. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid yang telah pecah itu. Pertama merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemudian mencarikan isteri baru bagi Zaid dengan mengawinkannya dengan Ummu Kaltsum binti 'Uqbah.
Disebabkan peristiwa tersebut di atas terjadi kegoncangan dalam masyarakat kota Madinah. Meueka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya?
Tantangan dan kecaman ini dijawab Allah dengan wahyu-Nya, yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau annak adaptasi dengan anak sebenamya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:
Muhammad bukanlah bapah dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabipenutup. (Q.S. 33 al-Ahzab: 40)
Dengan demikian kembali Zaid dipanggil dengan namanya semula "Zaid bin Haritsah"
Dan sekarang ....
Tahukah anda bahwa kekuatan Islam yang pernah maju medan perang "Al-Jumuh" komandannya adalah Zaid bin Haritsah? Dan kekuatan-kekuatan lasykar Islam yang bergerak maju ke medan pertempuran at-Tharaf, al-'Ish, al-Hismi dan lainnya, panglima pasukannya, adalah Zaid bin Haritsah juga?
Begitulah sebagaimana yang pernah kita dengar dari Ummil Mu'minin 'Aisyah radhiyallah 'anha tadi: "Setiap Nabi mengirimkan Zaid dalam suatu pasukan, pasti ia yang diangkat jadi pemimpinnya'"
Akhirnya datanglah perang Muktah yang terkenal itu ....
Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua bangka, secara diam-diam mulai cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang dapat mengancam keselamatan dan wujud mereka.
Terutama di daerah jajahan mereka Syam (Syria) yang berbatasan dengan negara dari Agama baru ini, yang senantiasa bergerak maju dalam membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria sebagai batu loncatan untuk menaklukkan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.
Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tujuan terakhir mereka yang hendak menumpas kekuatan Islam dapat tercium oleh Nabi. Sebagai seorang ahli strategi, Nabi memutuskan untuk mendahului mereka dengan serangan mendadak daripada diserang di daerah sendiri, dan menyadarkan mereka akan keampuhan perlawanan Islam.
Demikianlah, pada bulan Jumadil Ula, tahun yang kedelapan Hijrah tentara Islam maju bergerak ke Balqa' di wilayah Syam.
Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedang lasykar Islam mengambil posisi di dekat suatu negeri kecil yang bernama Muktah, yang jadi nama pertempuran ini sendiri.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui benar arti penting dan bahayanya peperangan ini. Oleh sebab itu beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertaqarrub mendekatkan diri kepada Ilahi, sedang di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela Agama. ?Tiga orang pahlawan yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, mereka yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimah Allah. Mengharap semata-mata ridla ilahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak ....
Mereka yang bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Pertama Zaid bin Haritsah, kedua Ja'far bin Abi Thalib dan ketiga 'Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah ridla kepada mereka dan menjadikan mereka ridla kepada-Nya, serta Allah meridlai pula seluruh shahabat-shahabat yang lain ....
Begitulah apa yang kita saksikan di permulaan ceritera ini, sewaktu berangkat Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat: "Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Haritsah sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja'far bin Abi Thalib, dan seandainya Ja'far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh 'Abdullah bin Rawahah!"
Sekalipun Ja'far bin Abi Thalib adalah orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi hubungan keluarga, sebagai anak pamannya sendiri .... Sekalipun keberanian ketangkasannya tak diragukan lagi, kebangsawanan dan turunannya begitu pula, namun ia hanya sebagai orang kedua sesudah Zaid, sebagai panglima pengganti, sedangkan Zaid beliau angkat sebagai panglima pertama pasukan.
Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul dalam mengukuhkan suatu prinsip. Bahwa Islam sebagai suatu Agama baru mengikis habis segala hubungan lapuk yang didasarkan pada darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang bathil dan rasialisme, menggantinya dengan bubungan baru yang dipimpin oleh hidayah ilahi yang berpokok kepada hakekat kemanusiaan ....
Dan seolah-olah Rasul telah mengetahui secara ghaib tentang pertempuran yang akan berlangsung, beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu Ja'far, kemudian Ibnu Abi Rawahah. Ternyata ketiga mereka menemui Tuhannya sebagai syuhada sesuai dengan urutan itu pula!
Demi Kaum Muslimin melihat tentara Romawi yang jumlahnya menurut taksiran tidak kurang dari 200.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duga sama sekali, mereka terkejut.
Tetapi kapankah pertempuran yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?
Ketika itulah ..., di sana, mereka maju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh .... Di depan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maju menyerbu laksana topan, di celah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu mereka mencari apa yang telah dijanjikan Allah, yakni tempat pembaringan di sisi Allah, karena sesuai dengan firman-Nya:
 

"Sesungguhnya Allah telak membeli jiwa dan harta orang-orang Mu inin dengan surga sebagai imbalannya. (Q.S. 9 at-Taubah: 111) 
Zaid tak sempat melihat pasir Balqa', bahkan tidak pula keadaan bala tentara Romawi, tetapi ia langsung melihat keindahan taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa itulah hari istirahat dan kemenangannya.
Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menebas, membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyalah membuka pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya ke kampung kedamaian, surga yang kekal di sisi Allah ....
Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir.
Rohnya yang melayang dalam perjaianannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tidak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.
Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, karena melihat panglima yang kedua Ja'far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum Jatuh ke tanah….
ke atas